Senin, 07 September 2026

2023

3 tahun telah berlalu. sejak terakhir kali aku hampir kehilangan diriku sendiri untuk yang kedua kalinya.

2023 adalah salah satu tahun terburukku. tahun yang tidak pernah aku bayangkan akan ku lewati dengan merasakan hal itu lagi. sesuatu yang membuatku kehilangan diriku hingga membentuk diriku yang baru. diriku yang tidak lagi secerah dulu.

perjalananku tahun itu tidak selalu diisi dengan keburukan. tetapi ternyata saat itu aku sedang membawa bom waktu, yang entah kapan dan bagaimana akan meledak dan menghancurkanku. aku kehilangan diriku akibat ledakan itu. aku kehilangan lisda yang ceria, lisda yang peka dan peduli pada orang lain, lisda yang ramah dan murah senyum.

hari-hari ku jalani dengan langkah yang berat. sejak awal tahun, disaat duniaku sedang tidak ramah padaku, aku dihujam pisau bertubi-tubi. fitnah adalah makanan sehari-hariku. direndahkan dan tidak dihargai seakan menjadi takdirku. dan puncaknya adalah perceraian kedua orang tuaku.

cerai, adalah salah satu hal yang ku harapkan dari kedua orang tuaku sejak lama. tetapi aku tidak pernah menyangka ketika hal itu benar terjadi aku akan merasakan dampak yang luar biasa terhadap mentalku. lisda yang kukira kuat ternyata hanya seorang gadis rapuh. lisda yang selalu berdiri menjadi tameng untuk melindungi ibunya ternyata hanyalah seorang anak perempuan yang mendambakan keluarga sederhana yang bahagia. tidak, bukan berarti keluargaku benar-benar tidak bahagia selama ini. tetapi aku tidak pernah membayangkan bahwa keluarga kecilku tidak bisa bertahan lama. semakin kami bertahan untuk menjaganya tetap utuh, maka semakin dalam kami saling melukai.

depresi telah menjadi tamu yang tidak diundang pada tahun itu. sedikitpun aku tidak pernah berpikir akan bertemu dengan diriku difase itu lagi, setelah terakhir kali melewatinya adalah saat SMA dulu. dan siapa sangka, kunjungan yang kedua ini menjadi semakin intens dan dalam, sehingga benar-benar berhasil menghancurkanku menjadi serpihan.

melewati hari ke hari, minggu ke minggu, hingga bulan ke bulan dengan ditemani oleh depresi adalah hal yang tidak ingin kurasakan lagi. tubuhku lelah, tetapi aku takut untuk tidur, karna ketika tidur, depresi menyerangku melalui mimpi. tetapi ketika aku tersadar, tatapanku menjadi kosong, hatiku terasa sakit, dadaku sesak, nafasku terasa berat, dan semua adegan-adegan yang terlintas dikepalaku hanyalah bagaimana cara agar rasa sakit ini hilang dari hatiku, bagaimana cara untuk mengakhiri ini semua. 

suicide? setiap hari otakku merancang bagaimana caranya agar bisa melakukan itu tanpa harus menyakiti ibuku. disaat sedang berkendara untuk pergi kerja dipagi hari, tidak sedikt aku berpikiran untuk menabrakkan diriku ke mobil yang tengah melaju, berharap agar pagi itu aku tidak perlu berangkat kerja dan berpura-pura tersenyum menghadapi pasien-pasienku. dirumah? aku hanya mengurung diri dikamar. tidak makan ataupun minum, berharap aku bisa pergi perlahan. menangis? setiap hari, setiap jam, bahkan setiap menit disaat aku hanya seorang diri, air mataku selalu tiba-tiba menetes. entah hal apa yang membuatku menangis. rasanya dadaku terlalu sesak dan penuh untuk mengetahui hal apa yang sebenarnya menjadi masalah.

hari-hariku menjadi semakin buruk ketika salah satu kucing kesayanganku pergi akibat sakit yang telah dideritanya cukup lama. melihat dia semakin lemah dan tidak berdaya, membuatku menyalahkan diriku sendiri. aku gagal merawat dan menjaga dia. fakta bahwa selama beberapa bulan mengalami depresi membuatku tidak bisa fokus untuk merawat dia. dan hal itu membuat depresiku menjadi semakin berat.

berkali-kali aku merasakan bahwa diriku membutuhkan pertolongan. tapi isi kepalaku seperti menolak.

lalu bagaimana aku bertahan?

teman baru, lingkungan baru.

Allah mempertemukanku dengan orang-orang baru yang memiliki hati tulus dan hangat. bertemu dan mengenal mereka adalah hal terbaik yang terjadi padaku di tahun itu. entah bagaimana kalau saat itu aku tidak bertemu mereka. tapi akupun sadar, itu semua karna Allah mengizinkannya terjadi. entah bagaimana Allah memiliki keyakinan bahwa aku akan mampu melewati itu semua, sampai akhirnya Allah berikan bala bantuan untukku. dan sejak itu, lisda yang hancur perlahan-lahan berusaha untuk kembali bangkit dengan merawat setiap lukanya.

sampai hari ini, detik ini, masih banyak hal-hal yang bisa memicu depresiku. tapi aku tahu, aku tidak selemah itu. mungkin untuk saat ini, masih banyak hal yang akhirnya harus ku hindari demi melindungi lisda yang belum benar-benar sembuh total ini. dan entah kapan lisda akan kembali menjadi lisda yang dulu. tapi seseorang pernah mengatakan padaku, bahwa aku tidak perlu berjuang untuk menjadi lisda yang dulu. karna lisda yang sekarang adalah sosok lisda yang terkuat yang pernah ada. lisda yang menjadi bukti betapa berat dan panjangnya perjuangannya selama ini. dan lisda yang sekarang adalah yang terbaik yang pernah ada.

walaupun begitu, banyak hal yang ingin ku lakukan dengan bebas dan tanpa takut terluka lagi. lisda yang saat ini masih sangat terlalu berhati-hati. tapi aku tetap akan berterima kasih pada diriku, karna telah menjagaku dan tetap bertahan hingga hari ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar